Sunday, November 4, 2018

Penantian santri


PENANTIAN
                Hari ini minggu pagi aku terbangun dari tidur panjang yang tak terasa lamanya aku tertidur dengan pulas tanpa menghiraukan apapun tak peduli walau tikus di pondok mati semua, Kegiatan yang menggugah kemalasan muncul sebut saja namanya ro’an, Aku selalu semangat jika kegiatan dimulai walau muka masih terlihat kusut tapi ragaku tidak kusut.
 Aku kebagian membersihkan lantai 4 ketika aku membersihkan almari di bawah televisi yang sangat berdebu, tiba-tiba aku menemukan sebuah album foto yang sangat buluk seperti tidak mempunyai tuan kubuka album itu dengan pelan-pelan, Sejenak aku terdiam dan melamun mengingat masa-masa ketika awal masuk pondok, aku mencari fotoku terlihat lugu imut kecil dan hitam sekali aku tertawa sendiri melihat foto-foto itu.
“Assalamualaikum kak ?”
“Waalaikumussalam dek, ada apa ?”
“Saya melihat kakak tertawa sendiri saya khawatir ada apa-apa makanya saya kesini”
“Hahahahahahahaha, Tidak ada apa-apa dek ini saya melihat foto-foto masalalu saya ketika awal disini, begitu lucunya muka ini”
                Hari yang sangat melelahkan yaitu Senin dengan kegiatan yang begitu padat dan rumit dan sangat berat lagi dengan pelajaran yang memenuhi otak, kegiatan pondok yang sangat menyibukkan dari pulang sekolah sampai larut malam, Belum lagi besok selasa ada PR dari sekolah penat di kepala semakin banyak dan ingin meledak rasanya.
                Tapi aku melihat salah seorang temanku mengapa dia begitu semangat menjalankan hari-harinya seperti tidak ada beban di setiap  harinya namanya farhaiza dia bukan teman akrabku memang kita satu sekolah dan pondok tapi kita tidak pernah berbicara bersama ataupun berangkat sekolah bersama karna dia berangkat ke sekolah pukul 06.00 sedangkan aku setengah tujuh baru berangkat dia selalu mengawali apapun kegiatan yang berjalan mulai dari shalat tahajud sampai tidurnya.
 Dalam hatiku “subhanaallah sekali farhaiza di sekolah dia sangat rajin di pondok juga sangat rajin sekali diapun sudah khatam dalam 3 tahun”, Aku hanya bisa membayangkan jika itu terjadi olehku pasti mama dan ayah sangat bangga padaku semua yang kuinginkan akan terwujud ingin kesana ingin kesini dengan mudahnya dan aku pasti sangat semangat sekali menjalani hari-hariku dan tidak mengeluh setiap saat.
“Hei Kak Alishba, ngapain kamu?” adiba tiba-tiba datang dan mengagetkanku
“Adiba, aku kagetkan jadinya”
“Lagian sih kamu dari tadi itu melamun terus, eh dari tadi aku melihat kamu dari jauh kayak orang kebingungan tau”
“Masa sih ba, tapi memang aku sedang berfikir keras sih ini?”
“Gayanya kakakku ini berfikir keras segala, memang mikirin apasih kamu?”
“Aku itu heran ba sama farhaiza ko bisa gituloh”
“Farhaiza teman sekolahmu yang cantik itu kan ?”
“Iyah subhanaallah gitu ba”
Adiba menceritakan Farhaiza kepadaku, Ibunya hanyalah seorang penyapu jalanan yang memperoleh upah yang tak seberapa sedangkan Ayahnya adalah seorang sosok yang tak pernah mempedulikan anggota keluarganya, Makanya farhaiza ingin membanggakan kedua orangtuanya dan membuktikan kepada mereka bahwa dia bisa mencapai cita-citanya dengan tidak membebankan orangtuanya, Farhaiza sekolah di tempat favorit dan biayanyapun tidak sedikit.
            Senin sore ini aku berangkat ke masjid untuk berjamaah shalat ashar, Aku berangkat sendiri karna Adiba sedang wanita, Dimanapun aku berada disitu pasti ada Adiba walau kita tidak satu sekolah dan tidak satu kamar Adiba kelas 10 aku  kelas 12 kita bisa akrab seperti ini karna dulu waktu pertama adiba masuk pondok mamanya menitipkan padaku sampai saat ini, Adiba tidak bisa terlepas dariku dan aku menganggap adiba seperti adikku sendiri ketika liburanpun adiba sering berkunjung kerumahku.
Setelah shalat ashar selesai aku menikmati indahnya langit sore ini, mendung yang dihiasi dengan burung walet yang terbang berbaris dengan rapi dan banyak pesawat yang hendak turun terlihat sangat dekat dan sangat berisik.
 Adiba menghampiriku “Kak ikut aku yuk” sambil menarik tanganku “Kemana ba ?” “Kedepan kak, Ada mama disana” “Kamu dijenguk ba ?” “ Iyah kak, ayo anterin kedepan” Adiba merengek dan menarik tanganku seperti biasa, Sesungguhnya aku sedikit menolak tapi jika aku menolak pasti Adiba marah dan mengadukan pada mamanya, Akhirnya aku mengantarkan Adiba kedepan bertemu mamanya.
“Assalamualaikum tante” Aku menyapa mama adiba
“Waalaikumussalam mbak, habis shalat ?”
“Iyah tante ini baru dari masjid langsung diajakin adiba kesini”
“Wah adiba ini kebiasaan mbak”
“Iyah tante nanti kalau nggak diturutin apa maunya pasti marah” Aku dan mama Adiba sudah seperti ibu dan anak begitupun mamaku dengan Adiba
“Kak aku mau pulang”
“Kenapa ba pulang ?”
“Abi sakit dirumah sakit dari kemarin”
“Oh salam buat Abi yah ba”
“Iyah kak, Aku pulang dulu Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam, Hati-hati ba, tante”
            Rasanya sepi karna Adiba pulang, Biasanya ada yang cerewet minta ini itu diajak kesana kemari, Malam ini aku sendiri dan aku merasa bosan sekali akhirnya aku menghampiri teman-teman dikamarku mereka menggosip kamar sebelah tepat kamar Adiba.
Tak terasa 4 jam kita menggosip memang kamar Adiba tempat anak pindahan yang lumayan nakal-nakal makanya Adiba ingin pindah kekamarku, Aku dan 5 temanku yang masih hidup merasakan lapar tak beralasan kita mencari makanan dipojok-pojok tempat, dilemari lelang tidak ada satupun makanan kami berinisiatif untuk pergi keluar membeli mie diseberang tanpa sepengetahuan pengurus pondok.
Kami berjalan dengan mengendap-endap melewati jalan sempit sebelah rumah kyai yang nantinya akan melewati kandang kambing dan sawah kami melewati jalan sempit itu satu persatu dan untungnya kandang kambing sudah dibersihkan jadi tidak terlalu bau kotoran kambing.
            Setelah sampai jalan besar kami langsung menyebrang membeli mie dan makan ditempat dengan nikmat tanpa ada gangguan. Kami menghabiskan mie itu dengan sangat lahap karna sangat lapar bahkan ada yang pesan 2 porsi “Tara itu perut dari karet apa ?” “Ya alishba lagian aku lapar banget sih” “haha yasudah pesen yang banyak kenyangin itu perutnya biar sampe pondok nggak kebingungan cari-cari makanan” “ Iyah nii all”
            Semua perut sudah terisi penuh terutama tara yang pesan 2 porsi mie, Kami langsung kembali ke pondok melewati jalan pintas yang tadi, jalan sempit sebelah rumah kyai sebelum itu ada sawah dan kandang kambing yang membuat tak ingin kembali ke pondok karna harus melewati jalan subhanaallah itu.
Dengan terpaksa kami melewati jalan yang indah itu dengan hati dag dig dug karna jalannya yang juga licin dan gelap tapi allhamdulillah kami sampai pondok dengan selamat. Kami melangsungkan tidur hingga pukul 03.00 hanya satu jam kami tidur karna pengurus pondok membangunkan kami dengan mengetukkan hanger besi ke tiang, sangat berisik dan mengganggu akhirnya aku bangun dan shalat walau sambil bergoyang ketika mengucap doa iftitah, Sujud dengan tidak sadarkan diri.
Setelah shalat shubuh aku menuju kamar melanjutkan tidur yang terlewat saking ngantuknya aku sampai bangun pukul setengah tujuh dengan gelagapan seragam kupakai, kekamar mandi mencuci muka dan bergegas ke sekolah tanpa sarapan tanpa mandi karna pukul tujuh gerbang sekolah sudah ditutup.
            Aku tiba disekolah tepat gerbang baru ditutup tapi syukur satpam hari ini baik beliau bersedia membukakan gerbang untukku, Selama pelajaran mataku terasa berat seperti ada sesuatu yang sangat besar menggantung dikelopak mata dan seperti ada yang meninabobok dengan meniup angin yang berhembus sangat kencang mengenai mata sehingga membuat mata tidak ingin melihat apapun.
            Sela beberapa menit setan itu berhasil membuatku tertidur selama 10 menit tak terasa lamanya aku tertidur, aku terbangun karena bisikan guru PAI “man robbuka ?” langsung aku tersadar “Astaghfirullah pak” “kamu kesekolah tadi mau pindah tidur atau mau mencari ilmu ?” Yah mencari tambahan ilmu lah pak” aku menjawab sambil remang-remang karna kekantukanku yang tak dapat ditahan, Sangat panas dan merah. Pak guru menyuruhku ke kamar mandi untuk membasuh muka agar tidak mengantuk lagi.
             Setelah membasuh muka aku melihat kantin yang sudah buka aku tidak langsung kembali kedalam kelas melainkan mampir ke kantin membeli makanan pedas agar mataku terbuka, Di dalam kelas aku memakan makanan yang kubeli barusan dikantin “ Alishba, Sudah dicuci mukanya ?” “ Sudah pak” Aku menjawab dengan gelagapan karna aku membawa makanan, di dalam pelajaran PAI tidak boleh membawa makanan maupun minuman karena itu termasuk “Dholim” tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jika ketahuan akan dikeluarkan dari kelas, Aku tidak mau itu terjadi padaku karena jika aku keluar dari kelas itu pertanda kalau aku ada masalah dengan guru bersangkutan dan pasti kelas dibawahku mentertawakan aku dan itu membuat malu.
            Hari demi hari kulalui sudah tiga hari ini berjalan tidak ada yang memanggilku ke kantor pengurus aku bersyukur allhamdulillah karna aku tidak masuk ruangan itu, “Kak aku ada PR” Adiba memelukku dari belakang “ PR apa ?” “ Bahasa inggris” “Kamu itu yah selalu kalau ada PR mintanya ke kakak, sekali-kali dikerjain sendiri ba nanti aku yang koreksi” “ Yah kamu kok gitu sih kak” “ Ba kamu itu harus belajar mandiri jangan ini itu minta aku yang ngelakuin, Habis ini juga kan aku keluar nanti kalau aku keluar siapa yang mau kamu ribetin ?” Aku menasihati Adiba dengan sedikit membentak karena kalau tidak seperti itu pasti Adiba melawanku aku tidak mau nanti kalau aku sudah keluar Adiba kebingungan kesana kesini mencari teman.
Kurang tiga bulan aku keluar aku mulai membiasakan Adiba bergaul dengan semua teman yang ada dipondok dan aku juga memperkenalkan temanku padanya agar tidak hanya berteman pada satu teman jika tidak dia akan sendiri dan semakin tidak betah dipondok.
            Hari esoknya kami di panggil ke ruang pengurus pondok, Kami langsung prasaan apa kemarin waktu kabur ada yang memergoki kita. Sebelum kita masuk ke ruangan itu kami berunding dikamar dahulu “Alishba gimana ini, Siapa yang menguntit kita diam-diam ?” “Wah nggak tau tar, Kemarin nuni juga sudah jaga-jaga kan” “Iyah kok al” “Yasudahlah teman-teman semua perbuatan pasti ada resikonya dan kita harus berani mengambil resikonya walau berat” “Tapi nanti kalau kita dihukum membersihkan kamar mandi santri putra gimana al ?” “ Yah itu taqdir, masa kita membelokkan taqdir dengan tiba-tiba nggak mungkin kan” “ Iyah juga sih” “ Yasudahlah kita harus tanggung jawab dengan apa yang kita perbuat”.
            Kami memasuki ruangan itu ada ketua pondok, keamanan dan ada 2 santri putra, Hatiku berdegup sangat kencang aku sangat takut melihat tatapan ketua pondok yang matanya besar dan melirik sangat tajam. Ditambah dengan keamanan yang berbadan besar memakai pakaian hitam dan bersurban putih itu melihat kami dengan muka yang tidak enak sama sekali, Keamanan satu lagi tidak terlihat marah beliau yang mempersilahkan kami masuk ke ruangan itu.
“ Ayo masuk nduk”
“ Iyah ustadz” Satu persatu kami masuk dengan perlahan
“ Assalamualaikum ustadz”
“ Waalaikumussalam, Ayo duduk” Aku dan teman-teman terdiam dan tidak membuka mulut sama sekali
“ Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian kesini ?”
“ Iyah ustadz”
“ Apa yang kalian lakukan ?”
Kami menjelaskan secara runtut bagaimana kita pergi semalam. Sebelum kita menjelaskan dua santri putra itu menceritakan kejadian yang terjadi pada malam itu karna kita terlalu lama tidak bercerita akhirnya mereka bercerita terlebih dahulu, karna awalnya kami takut jika ketua pondok marah besar dan akhirnya kita dipulangkan.
Semua tidak seperti dugaanku ketua pondok hanya memberikan kami senyuman walau senyumnya pahit, ini sebuah kenakalan kebanyak kalinya yang kubuat setelah beberapa tahun disini jadi hukuman yang diberikan tidak ringan menurut keamanan, hukuman berupa membersihkan seluruh komplek pondok putri selama  sehari. Dalam hatiku walau sehari itu sudah sangat melelahkan, di komplekku sendiri saja ada 5 kamar mandi berhadapan dan ruangan kecil lainnya dan terdiri dari 3 komplek sudah bisa dilihat capeknya seberapa. Biasanya hanya membersihkan kamar karna tidak shalat jammah.
Ternyata tidak hanya kita yang dipanggil melainkan orangtua kita juga dipanggil, Aku sangat takut mama akan marah dan tidak akan menjenguk aku, Aku menangis dipojokan kamar tersudut sendiri tidak ada yang menemani “Assalamualaikum nak kenapa nangis ?” “ Waalaikumussalam mama” Aku terkagetkan dengan kedatangan mama dengan tiba-tiba aku menjawab salam dari mama dengan tersedu-sedu.
“ Nak kamu nggak usah merasa seperti itu, mama nggak marah belajar dari kesalahan itu baik lohh nak daripada yang berbuat salah terus tapi tidak pernah bertanggung jawab itu sama saja orang yang putus asa dan tidak mau sukses” Mama terus memotivasi aku sampai aku bisa bangkit lagi, Dalam hati Allhamdulillah mama tidak memarahi aku mama malah menasihatiku dari nasihat itu aku selalu membawa pesan mama sebagai penyemangat ku.
Akupun mulai sadar dan bangkit seperti awal masuk pondok dan menjadi alishba yang baru kesemangatankupun mulai membara dan aku belajar agar tidak mudah putus asa dan belajar dari kesalahan seperti apa yang dikatakan mama.
Mama adalah sosok yang sangat mengerti kita karna di dalam jiwa ibu ada rasa yang sama, guruku pernah berkata “bahwa raga seorang anak, ibu juga bisa merasakan” seperti ilmu telepati yang pernah di gunakan orang pada zaman dahulu untuk mengetahui perasaan dan bagaimana keadaan yang terjadi, Karna pada zaman dahulu belum maju seperti zaman sekarang yang segalanya serba otomatis, praktis dan mudah dijangkau.
Hukuman itupun kulakukan hari ini hari kamis aku izin tidak sekolah untuk melakukan hukuman ini padahal ulangan guru killer hari ini. Aku membersihkan pondok sampai sore, lelah sekali rasanya aku merasa sangat kapok sekali sedari tadi mengeluh terus kepada teman-temanku yang juga mengikuti hukuman, Mereka juga mengeluh karna memang sangat lelah membersihkan 3 komplek, satu komplek saja sudah masyaallah apalagi tiga.
                Hari esoknya aku masuk sekolah semua bertanya kenapa aku kemarin tidak sekolah aku hanya diam karna aku malu jika aku menjawab. Farhaiza mungkin tahu tapi dia diam saja aku langsung menghampirinya “Far kamu tahu kan apa yang terjadi kemarin ?” “Kenapa ?” “ Jelas kamu tahu jangan bilang kepada siapapun yah far” “Iya” Dalam hatiku judes sekali sih anak ini jelas saja tidak ada yang berteman dengan dia.
                Angkatanku sering dikenal seperti macan yang semua siswa di bawah kita pasti takut, dari kita kelas 10 semua angkatan takut sampai kini kami sudah kelas 12 , sampai kita terheran apa yang salah dengan kita, Memang kita selalu berani tapi itu juga sebagian keluhan dari siswa di bawah kita mereka mengeluh tapi tidak berani mengusulkan fikirannya, beda dengan kita kita selalu mengusulkan apa yang terjadi dan apa yang membuat hati terasa sakit yang sedikit mendalam.
Angkatanku juga bisa dibilang sebagai angkatan yang unik, sering bertengkar bahkan selalu tetapi kita masih tetap harmonis walau kita memiliki masalah pada masing-masing orang tapi kita tetap profesional yang tidak menyangkutpautkan masalah pribadi ke semua orang.
                Setiba di pondok aku langsung disambut dengan kedatangan Adiba dia baru datang dari majalengka karna abinya dirawat disana. Sore ini aku berencana mendatangi ustadz keamanan pondok untuk memberitahu bahwa aku selesai mengerjakan semua tugasku, Ustadz berpesan kepadaku contohlah Farhaiza dia adalah anak paling rajin diapun tidak pernah pulang tidak pernah melanggar peraturan.  Aku langsung berfikir apakah aku mendekati dia saja aku akan bertanya bagaimana usaha dia berjuang selama dipondok.
“ Assalamualaikum far”
“ Waalaikumussalam ada apa lagi ?”
“ Nggak kok far aku cuma pengen temenan aja sama kamu”
“ Ehm, iyah silahkan”
Kukira farhaiza itu judes cuek nggak perduli dan sulit untuk mengajak bicara ternyata semuanya tidak seperti yang kukira Farhaiza adalah anak yang baik,perhatian,ramah kepada setiap orang. Mungkin selama ini hanya perasaanku saja yang menilai dia jelek sifatnya ternyata tidak sama sekali, Farhaiza anaknya tertutup mungkin yang tidak mengenal dia akan menilai sama sepertiku sebelum mengenalnya.
                Perlahan aku mulai mengetahui sifat farhaiza, Aku kagum melihat kesemangatan farhaiza dalam mencari ilmu, Semangatnya sungguh luar biasa  hasil dari semangat itu sangat berharga dalam setiap tetes yang dikeluarkan dan alhasil semua biaya sekolah ditanggung oleh sekolah berkat semua prestasi yang didapatnya uang sakupun dia mendapatkan dari lomba-lomba yang banyak diikutinya. Rajin menabung tidak pernah jajan itulah prinsipnya dalam keuangan Farhaiza.
Berbeda sekali denganku prinsipku adalah Perut kenyang hatipun senang walau uangku habis aku tinggal sms mama untuk mentransfer tidak seperti Farhaiza dia rajin berpuasa tidak hanya senin kamis dia selalu bertirakat puasa untuk menekuni karirnya kemasa depan.
                Aku mulai mengikuti cara hidup Farhaiza yang prinsip hidupnya menggugah aku untuk mengikutinya, Farhaiza pernah berpesan kepadaku bahwa “ Manis Pahitnya Hidup Kita Yang Menentukan Adalah Kita Sendiri” kalimat itu yang telah diucapkan oleh Imam Syafi’i.
Aku terdiam dan membayangkan mengapa aku tidak seperti farhaiza memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang berharga. Membuat suatu perubahan itu memang sangatlah sulit sangat sangat sulit bahkan tapi dengan tekad dan MAU kita bisa melakukan itu yang paling penting adalah mau untuk melakukan perubahan. Dengan Bismillah aku mau melakukan perubahan, Farhaiza mampu merubahku dari yang malas menjadi sangat rajin, Sampai semua warga pondok terheran melihatku sangat rajin melakukan aktivitas.
                Aku memulai hariku yang dulunya putih abu-abu menjadi berwarna aku juga mulai memanfaatkan keberadaanku untuk hal-hal yang menguntungkan, Dan aku harus bersyukur mama dan ayahku mampu untuk membiayaiku sekolah pondok dan segalanya yang kuinginkan seperti uang saku lebih, barang-barang yang sebetulnya tidak penting dan yang lainnya aku mulai memanfaatkan untuk hal yang berguna dan mengurangi waktu bercanda. Absen shalat berjamaah terisi penuh tanpa ada yang kosong satupun aku melihatnya sangat senang sekali tidak seperti minggu lalu yang selalu kosong di shalat shubuhnya tapi sekarang sudah tidak lagi.
                Tiga bulan lagi aku UN, Aku berniat untuk bertirakat puasa agar masuk Universitas yang kuinginkan dengan mudah. Setiap hari Farhaiza membantuku mengerjakan soal-soal  yang menurutku sulit dan selalu memotivasiku agar tidak pantang menyerah.
Aku mulai bisa membagi waktuku untuk belajar walau tidurku larut karena tekad dan usaha ingin melakukan yang terbaik aku menyempatkan shalat tahajud walau dengan mata tertutup. Try out kujalani dengan sangat besar hati dan aku sangat senang aku bisa mengerjakan itu dengan mudah.
Hingga makanan hari-hariku kini adalah soal-soal SBMPTN soal Try out dan masih banyak lagi, Belum lagi di pondok aku punya kewajiban murojaah al quran yang tidak mungkin aku tinggalkan dan yang diakhir tahun sebelum aku keluar harus disetorkan kepada kyai.
                Tak terasa tiga bulan sudah berlalu minggu ini aku menjalani Ujian Nasional dimana siswa kelas XII diseluruh sekolah serentak mengerjakan soal-soal yang akan meluluskan mereka dari sekolah masing-masing.
Empat hari aku tidak belajar soal-soal karna aku sudah lelah melihat tulisan dan angka-angka itu aku hanya berdoa dan melakukan tirakatku, berangkat sekolah mengerjakan soal pulang tidur mengikuti kegiatan pondok sampai malam dilanjutkan dengan tidur disepertiga malam bangun shalat tahajud dan disambung tidur sampai shalat shubuh.
                Hasilpun sudah keluar aku merasakan gejolak mendalam di hati menunggu wali kelas membagikan  amplopan, Tanganku sudah merinding, dengan keringat dingin. Wali kelas akan mengumumkan nilai terbaik se-kota dan sekelas “Alishba Putri Aisyah ranking 3 se-kota dan ranking 2 sekelas” Aku menangis dan sangat tidak menyangka bahwa aku bisa melakukan itu semua. Setiba aku dipondok langsung menelfon mama untuk datang kepondok aku ingin membuat kejutan untuk mama karna ini pertama kalinya aku bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
                Saat wisuda aku dipanggil keatas panggung untuk diberi penghargaan yang pertama adalah Farhaiza kemudian dilanjut dengan Namaku. Aku menerima bunga dan uang sebesar lima ratus ribu penghargaan dari sekolah padahal aku tidak pernah mencetak prestasi apapun disekolah tapi tiba-tiba ketika UN dan Ujian Sekolah, Tryout dan Latihan Soal yang lain semua hasilnya sangat memuaskan. Aku berdiri dideretan murid berprestasi mulai dari kelas X sampai XII, Aku melihat mama yang sedari tadi tidak berhenti menangis melihatku aku terharu melihat mama yang tidak berhenti menangis.
                Setelah turun dari panggung aku sekeluarga berfoto semua terlihat sangat bangga padaku mama yang terus mencium aku sampai aku merasa malu saking bangganya mama padaku, Dari arah belakang Adiba datang membawa bucket bunga dengan kartu ucapan “ Congrats kakakku sayang yang sudah membantu aku dipondok selama dua tahun ini, Selamat melanjutkan belajarnya kakak Aku sayang kakak” Aku meneteskan air mata membaca itu. Semua orang disini membuat aku menangis tak ada hentinya.
                Setiba dipondok aku berpamitan dengan teman-teman dan berkemas kembali kerumah, Dan berpamitan pada kyai dan ketua pondok. “ Assalamualikum mbak” aku memberi salam pada mbak-mbak yang sedang piket menjaga rumah kyai.
“ Kyai ada didalam mbak alishba”
“ Bisa saya masuk mbak ?”
“ Iyah bisa kok mbak alishba, Mau pamit yah mbak ?”
“ Iyah mbak, Doanya yah mbak masuk Universitas pilihan saya”
“ Wah pasti mbak alishba, nanti nggak ada yang bangunin dong waktu shubuh”
“ Ada Adiba mbak tenang, oh iya mbak saya nitip Adiba yah temenin kalau dia kemana-mana”
“ Siap mbak alishba”
 Aku mulai masuk rumah kyai
“ Assalamualaikum yai”
“ Waalaikumussalam nduk, Ada apa ?”
“ Ini yai mau memamitkan Alishba” Mamaku yang meminta izin ke yai untuk memboyongkan aku.
                Yai bilang padaku nduk jangan lupa sama tirakatmu yang sudah dilakukan dipondok jangan lupa hafalannya harus dideres walau sedikit tapi lancar itu mukjizat nduk, Karna tidak semua orang bisa menghafalkan al quran dengan mudah, Aku menyimpan baik kata kyai.
                Aku masuk Universitas dengan jalur undangan dan allhamdulillah aku diterima di Universitas Favorit jurusan keperawatan S1 dengan mudah aku masuk, Aku mengambil beasiswa tahfidh lima juz dan semua berjalan dengan sangat lancar.
                Sekarang aku sudah dewasa menjadi anak kuliah yang mandiri, Aku tidak menyangka kalau aku bisa berubah sedrastis ini padahal aku dahulu sangat malas mudah putus asa dan selalu mengeluh, Semua berkat bantuan dari Farhaiza yang mampu mengubah aku dari malas menjadi sangat giat, Dan sekarang Farhaiza kuliah di jerman jurusan kedokteran dengan full beasiswa dari jalur tahfidh.
                Pertengahan semester seseorang dari pekalongan datang kerumahku dengan membawa cincin emas berlian, Aku hanya terdiam dan kemudian mama yang menjawab bahwa aku menerima cincin itu, mama memasangkan dijari seseorang itu dan mamanya memasangkan dijariku. Begitu cepat sebenarnya tapi mau gimana lagi mama sudah ingin aku menikah dan mungkin sebentar lagi mama sudah tua sehingga tidak bisa menjagaku.
                Seminggu setelah lamaran, pernikahan inipun terjadi aku menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal dan aku belum bertemu dengannya sama sekali ketika lamaranpun aku tidak dipertemukan dengannya kami berada pada satu atap ditempat yang berbeda. Kata Qobiltupun telah diucap seseorang itu langsung menjemputku dikamar perasaan yang sangat takut dan gemetar terjadi padaku dengan keringat tak ada hentinya, Aku terkagetkan melihat seorang lelaki yang berdiri menjemputku dan disampingnya perempuan yang sangat kukenal dan sangat kusayang dia adalah Adiba. Lelaki itu saudara kandung Adiba yang baru pulang dari Kairoh mesir dan sudah menghafalkan 30 juz putra dari salah seorang kyai di pekalongan, Ketika lamaran bukan mama Adiba yang memasangkan cincin dijari manisku melainkan orang lain. Ini sebuah hadiah dari Allah untukku tak sungkan aku menangis di hadapan suamiku dia adalah Ahmad zalzali, Ahmad memgang tanganku aku merasa takut karna ini pertama kalinya dalam seumur hidup tanganku dipegang oleh sosok lelaki yang tidak kukenal.
                Benar apa kata Farhaiza bahwa manis pahitnya hidup kita yang bisa menentukan dan kita bisa mengubah taqdir dengan tekad, Dan tak lupa juga yang dipesankan oleh kyai padaku dulu waktu aku berpamitan jangan meinggalkan tirakat yang sudah kubuat waktu masih dipondok, Al hasil semua berjalan dengan mudah ketika aku keluar dari pondok. Dan sekarang aku membuka praktik dirumah suamiku tidak mempermasalahkan aku walau aku membuka praktik dirumah, begitu baik dan sangat perhatian sekali suamiku, Kini aku dan Adiba benar-benar menjadi saudara dan semakin manja Adiba padaku padahal dia sudah menjadi mahasiswa bukan anak SMA lagi.

               
               



               



No comments:

Post a Comment

Penantian santri

PENANTIAN                 Hari ini minggu pagi aku terbangun dari tidur panjang yang tak terasa lamanya aku tertidur dengan pulas tanpa ...