PENANTIAN
Hari ini minggu pagi aku
terbangun dari tidur panjang yang tak terasa lamanya aku tertidur dengan pulas
tanpa menghiraukan apapun tak peduli walau tikus di pondok mati semua, Kegiatan
yang menggugah kemalasan muncul sebut saja namanya ro’an, Aku selalu semangat
jika kegiatan dimulai walau muka masih terlihat kusut tapi ragaku tidak kusut.
Aku kebagian membersihkan lantai 4
ketika aku membersihkan almari di bawah televisi yang sangat berdebu, tiba-tiba
aku menemukan sebuah album foto yang sangat buluk seperti tidak mempunyai tuan
kubuka album itu dengan pelan-pelan, Sejenak aku terdiam dan melamun mengingat
masa-masa ketika awal masuk pondok, aku mencari fotoku terlihat lugu imut kecil
dan hitam sekali aku tertawa sendiri melihat foto-foto itu.
“Assalamualaikum
kak ?”
“Waalaikumussalam dek, ada apa ?”
“Saya melihat kakak tertawa sendiri saya khawatir ada apa-apa makanya saya kesini”
“Hahahahahahahaha, Tidak ada apa-apa dek ini saya melihat foto-foto masalalu saya ketika awal disini, begitu lucunya muka ini”
“Waalaikumussalam dek, ada apa ?”
“Saya melihat kakak tertawa sendiri saya khawatir ada apa-apa makanya saya kesini”
“Hahahahahahahaha, Tidak ada apa-apa dek ini saya melihat foto-foto masalalu saya ketika awal disini, begitu lucunya muka ini”
Hari yang sangat melelahkan
yaitu Senin dengan kegiatan yang begitu padat dan rumit dan sangat berat lagi
dengan pelajaran yang memenuhi otak, kegiatan pondok yang sangat menyibukkan
dari pulang sekolah sampai larut malam, Belum lagi besok selasa ada PR dari
sekolah penat di kepala semakin banyak dan ingin meledak rasanya.
Tapi aku melihat salah seorang temanku mengapa dia begitu semangat menjalankan hari-harinya seperti tidak ada beban di setiap harinya namanya farhaiza dia bukan teman akrabku memang kita satu sekolah dan pondok tapi kita tidak pernah berbicara bersama ataupun berangkat sekolah bersama karna dia berangkat ke sekolah pukul 06.00 sedangkan aku setengah tujuh baru berangkat dia selalu mengawali apapun kegiatan yang berjalan mulai dari shalat tahajud sampai tidurnya.
Tapi aku melihat salah seorang temanku mengapa dia begitu semangat menjalankan hari-harinya seperti tidak ada beban di setiap harinya namanya farhaiza dia bukan teman akrabku memang kita satu sekolah dan pondok tapi kita tidak pernah berbicara bersama ataupun berangkat sekolah bersama karna dia berangkat ke sekolah pukul 06.00 sedangkan aku setengah tujuh baru berangkat dia selalu mengawali apapun kegiatan yang berjalan mulai dari shalat tahajud sampai tidurnya.
Dalam hatiku “subhanaallah sekali
farhaiza di sekolah dia sangat rajin di pondok juga sangat rajin sekali diapun
sudah khatam dalam 3 tahun”, Aku hanya bisa membayangkan jika itu terjadi
olehku pasti mama dan ayah sangat bangga padaku semua yang kuinginkan akan
terwujud ingin kesana ingin kesini dengan mudahnya dan aku pasti sangat
semangat sekali menjalani hari-hariku dan tidak mengeluh setiap saat.
“Hei Kak Alishba,
ngapain kamu?” adiba tiba-tiba datang dan mengagetkanku
“Adiba, aku kagetkan jadinya”
“Lagian sih kamu dari tadi itu melamun terus, eh dari tadi aku melihat kamu dari jauh kayak orang kebingungan tau”
“Masa sih ba, tapi memang aku sedang berfikir keras sih ini?”
“Gayanya kakakku ini berfikir keras segala, memang mikirin apasih kamu?”
“Aku itu heran ba sama farhaiza ko bisa gituloh”
“Farhaiza teman sekolahmu yang cantik itu kan ?”
“Iyah subhanaallah gitu ba”
“Adiba, aku kagetkan jadinya”
“Lagian sih kamu dari tadi itu melamun terus, eh dari tadi aku melihat kamu dari jauh kayak orang kebingungan tau”
“Masa sih ba, tapi memang aku sedang berfikir keras sih ini?”
“Gayanya kakakku ini berfikir keras segala, memang mikirin apasih kamu?”
“Aku itu heran ba sama farhaiza ko bisa gituloh”
“Farhaiza teman sekolahmu yang cantik itu kan ?”
“Iyah subhanaallah gitu ba”
Adiba
menceritakan Farhaiza kepadaku, Ibunya hanyalah seorang penyapu jalanan yang
memperoleh upah yang tak seberapa sedangkan Ayahnya adalah seorang sosok yang
tak pernah mempedulikan anggota keluarganya, Makanya farhaiza ingin
membanggakan kedua orangtuanya dan membuktikan kepada mereka bahwa dia bisa mencapai
cita-citanya dengan tidak membebankan orangtuanya, Farhaiza sekolah di tempat
favorit dan biayanyapun tidak sedikit.
Senin
sore ini aku berangkat ke masjid untuk berjamaah shalat ashar, Aku berangkat
sendiri karna Adiba sedang wanita, Dimanapun aku berada disitu pasti ada Adiba
walau kita tidak satu sekolah dan tidak satu kamar Adiba kelas 10 aku kelas 12 kita bisa akrab seperti ini karna dulu
waktu pertama adiba masuk pondok mamanya menitipkan padaku sampai saat ini,
Adiba tidak bisa terlepas dariku dan aku menganggap adiba seperti adikku
sendiri ketika liburanpun adiba sering berkunjung kerumahku.
Setelah shalat ashar selesai
aku menikmati indahnya langit sore ini, mendung yang dihiasi dengan burung
walet yang terbang berbaris dengan rapi dan banyak pesawat yang hendak turun
terlihat sangat dekat dan sangat berisik.
Adiba menghampiriku “Kak ikut aku yuk” sambil
menarik tanganku “Kemana ba ?” “Kedepan kak, Ada mama disana” “Kamu dijenguk ba
?” “ Iyah kak, ayo anterin kedepan” Adiba merengek dan menarik tanganku seperti
biasa, Sesungguhnya aku sedikit menolak tapi jika aku menolak pasti Adiba marah
dan mengadukan pada mamanya, Akhirnya aku mengantarkan Adiba kedepan bertemu
mamanya.
“Assalamualaikum tante” Aku menyapa mama
adiba
“Waalaikumussalam mbak, habis shalat ?”
“Iyah tante ini baru dari masjid langsung diajakin adiba kesini”
“Wah adiba ini kebiasaan mbak”
“Iyah tante nanti kalau nggak diturutin apa maunya pasti marah” Aku dan mama Adiba sudah seperti ibu dan anak begitupun mamaku dengan Adiba
“Kak aku mau pulang”
“Kenapa ba pulang ?”
“Abi sakit dirumah sakit dari kemarin”
“Oh salam buat Abi yah ba”
“Iyah kak, Aku pulang dulu Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam, Hati-hati ba, tante”
“Waalaikumussalam mbak, habis shalat ?”
“Iyah tante ini baru dari masjid langsung diajakin adiba kesini”
“Wah adiba ini kebiasaan mbak”
“Iyah tante nanti kalau nggak diturutin apa maunya pasti marah” Aku dan mama Adiba sudah seperti ibu dan anak begitupun mamaku dengan Adiba
“Kak aku mau pulang”
“Kenapa ba pulang ?”
“Abi sakit dirumah sakit dari kemarin”
“Oh salam buat Abi yah ba”
“Iyah kak, Aku pulang dulu Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam, Hati-hati ba, tante”
Rasanya
sepi karna Adiba pulang, Biasanya ada yang cerewet minta ini itu diajak kesana
kemari, Malam ini aku sendiri dan aku merasa bosan sekali akhirnya aku
menghampiri teman-teman dikamarku mereka menggosip kamar sebelah tepat kamar Adiba.
Tak terasa 4 jam kita
menggosip memang kamar Adiba tempat anak pindahan yang lumayan nakal-nakal
makanya Adiba ingin pindah kekamarku, Aku dan 5 temanku yang masih hidup
merasakan lapar tak beralasan kita mencari makanan dipojok-pojok tempat,
dilemari lelang tidak ada satupun makanan kami berinisiatif untuk pergi keluar
membeli mie diseberang tanpa sepengetahuan pengurus pondok.
Kami berjalan dengan
mengendap-endap melewati jalan sempit sebelah rumah kyai yang nantinya akan
melewati kandang kambing dan sawah kami melewati jalan sempit itu satu persatu dan
untungnya kandang kambing sudah dibersihkan jadi tidak terlalu bau kotoran
kambing.
Setelah
sampai jalan besar kami langsung menyebrang membeli mie dan makan ditempat
dengan nikmat tanpa ada gangguan. Kami menghabiskan mie itu dengan sangat lahap
karna sangat lapar bahkan ada yang pesan 2 porsi “Tara itu perut dari karet apa
?” “Ya alishba lagian aku lapar banget sih” “haha yasudah pesen yang banyak
kenyangin itu perutnya biar sampe pondok nggak kebingungan cari-cari makanan” “
Iyah nii all”
Semua
perut sudah terisi penuh terutama tara yang pesan 2 porsi mie, Kami langsung
kembali ke pondok melewati jalan pintas yang tadi, jalan sempit sebelah rumah
kyai sebelum itu ada sawah dan kandang kambing yang membuat tak ingin kembali
ke pondok karna harus melewati jalan subhanaallah itu.
Dengan terpaksa kami
melewati jalan yang indah itu dengan hati dag dig dug karna jalannya yang juga
licin dan gelap tapi allhamdulillah kami sampai pondok dengan selamat. Kami
melangsungkan tidur hingga pukul 03.00 hanya satu jam kami tidur karna pengurus
pondok membangunkan kami dengan mengetukkan hanger besi ke tiang, sangat
berisik dan mengganggu akhirnya aku bangun dan shalat walau sambil bergoyang
ketika mengucap doa iftitah, Sujud dengan tidak sadarkan diri.
Setelah shalat shubuh aku
menuju kamar melanjutkan tidur yang terlewat saking ngantuknya aku sampai
bangun pukul setengah tujuh dengan gelagapan seragam kupakai, kekamar mandi
mencuci muka dan bergegas ke sekolah tanpa sarapan tanpa mandi karna pukul
tujuh gerbang sekolah sudah ditutup.
Aku
tiba disekolah tepat gerbang baru ditutup tapi syukur satpam hari ini baik
beliau bersedia membukakan gerbang untukku, Selama pelajaran mataku terasa
berat seperti ada sesuatu yang sangat besar menggantung dikelopak mata dan
seperti ada yang meninabobok dengan meniup angin yang berhembus sangat kencang
mengenai mata sehingga membuat mata tidak ingin melihat apapun.
Sela
beberapa menit setan itu berhasil membuatku tertidur selama 10 menit tak terasa
lamanya aku tertidur, aku terbangun karena bisikan guru PAI “man robbuka ?”
langsung aku tersadar “Astaghfirullah pak” “kamu kesekolah tadi mau pindah
tidur atau mau mencari ilmu ?” Yah mencari tambahan ilmu lah pak” aku menjawab
sambil remang-remang karna kekantukanku yang tak dapat ditahan, Sangat panas
dan merah. Pak guru menyuruhku ke kamar mandi untuk membasuh muka agar tidak
mengantuk lagi.
Setelah membasuh muka aku melihat kantin yang
sudah buka aku tidak langsung kembali kedalam kelas melainkan mampir ke kantin
membeli makanan pedas agar mataku terbuka, Di dalam kelas aku memakan makanan
yang kubeli barusan dikantin “ Alishba, Sudah dicuci mukanya ?” “ Sudah pak”
Aku menjawab dengan gelagapan karna aku membawa makanan, di dalam pelajaran PAI
tidak boleh membawa makanan maupun minuman karena itu termasuk “Dholim” tidak
meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jika ketahuan akan dikeluarkan dari kelas,
Aku tidak mau itu terjadi padaku karena jika aku keluar dari kelas itu pertanda
kalau aku ada masalah dengan guru bersangkutan dan pasti kelas dibawahku
mentertawakan aku dan itu membuat malu.
Hari
demi hari kulalui sudah tiga hari ini berjalan tidak ada yang memanggilku ke
kantor pengurus aku bersyukur allhamdulillah karna aku tidak masuk ruangan itu,
“Kak aku ada PR” Adiba memelukku dari belakang “ PR apa ?” “ Bahasa inggris”
“Kamu itu yah selalu kalau ada PR mintanya ke kakak, sekali-kali dikerjain
sendiri ba nanti aku yang koreksi” “ Yah kamu kok gitu sih kak” “ Ba kamu itu
harus belajar mandiri jangan ini itu minta aku yang ngelakuin, Habis ini juga
kan aku keluar nanti kalau aku keluar siapa yang mau kamu ribetin ?” Aku
menasihati Adiba dengan sedikit membentak karena kalau tidak seperti itu pasti
Adiba melawanku aku tidak mau nanti kalau aku sudah keluar Adiba kebingungan
kesana kesini mencari teman.
Kurang tiga bulan aku keluar
aku mulai membiasakan Adiba bergaul dengan semua teman yang ada dipondok dan
aku juga memperkenalkan temanku padanya agar tidak hanya berteman pada satu
teman jika tidak dia akan sendiri dan semakin tidak betah dipondok.
Hari
esoknya kami di panggil ke ruang pengurus pondok, Kami langsung prasaan apa
kemarin waktu kabur ada yang memergoki kita. Sebelum kita masuk ke ruangan itu
kami berunding dikamar dahulu “Alishba gimana ini, Siapa yang menguntit kita
diam-diam ?” “Wah nggak tau tar, Kemarin nuni juga sudah jaga-jaga kan” “Iyah
kok al” “Yasudahlah teman-teman semua perbuatan pasti ada resikonya dan kita
harus berani mengambil resikonya walau berat” “Tapi nanti kalau kita dihukum
membersihkan kamar mandi santri putra gimana al ?” “ Yah itu taqdir, masa kita
membelokkan taqdir dengan tiba-tiba nggak mungkin kan” “ Iyah juga sih” “
Yasudahlah kita harus tanggung jawab dengan apa yang kita perbuat”.
Kami
memasuki ruangan itu ada ketua pondok, keamanan dan ada 2 santri putra, Hatiku
berdegup sangat kencang aku sangat takut melihat tatapan ketua pondok yang matanya
besar dan melirik sangat tajam. Ditambah dengan keamanan yang berbadan besar
memakai pakaian hitam dan bersurban putih itu melihat kami dengan muka yang
tidak enak sama sekali, Keamanan satu lagi tidak terlihat marah beliau yang
mempersilahkan kami masuk ke ruangan itu.
“ Ayo masuk nduk”
“ Iyah ustadz” Satu persatu kami masuk dengan perlahan
“ Assalamualaikum ustadz”
“ Waalaikumussalam, Ayo duduk” Aku dan teman-teman terdiam dan tidak membuka mulut sama sekali
“ Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian kesini ?”
“ Iyah ustadz”
“ Apa yang kalian lakukan ?”
“ Iyah ustadz” Satu persatu kami masuk dengan perlahan
“ Assalamualaikum ustadz”
“ Waalaikumussalam, Ayo duduk” Aku dan teman-teman terdiam dan tidak membuka mulut sama sekali
“ Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian kesini ?”
“ Iyah ustadz”
“ Apa yang kalian lakukan ?”
Kami menjelaskan secara
runtut bagaimana kita pergi semalam. Sebelum kita menjelaskan dua santri putra
itu menceritakan kejadian yang terjadi pada malam itu karna kita terlalu lama
tidak bercerita akhirnya mereka bercerita terlebih dahulu, karna awalnya kami
takut jika ketua pondok marah besar dan akhirnya kita dipulangkan.
Semua tidak seperti dugaanku
ketua pondok hanya memberikan kami senyuman walau senyumnya pahit, ini sebuah
kenakalan kebanyak kalinya yang kubuat setelah beberapa tahun disini jadi
hukuman yang diberikan tidak ringan menurut keamanan, hukuman berupa
membersihkan seluruh komplek pondok putri selama sehari. Dalam hatiku walau sehari itu sudah
sangat melelahkan, di komplekku sendiri saja ada 5 kamar mandi berhadapan dan
ruangan kecil lainnya dan terdiri dari 3 komplek sudah bisa dilihat capeknya
seberapa. Biasanya hanya membersihkan kamar karna tidak shalat jammah.
Ternyata tidak hanya kita yang dipanggil melainkan orangtua kita juga
dipanggil, Aku sangat takut mama akan marah dan tidak akan menjenguk aku, Aku
menangis dipojokan kamar tersudut sendiri tidak ada yang menemani
“Assalamualaikum nak kenapa nangis ?” “ Waalaikumussalam mama” Aku terkagetkan
dengan kedatangan mama dengan tiba-tiba aku menjawab salam dari mama dengan
tersedu-sedu.
“ Nak kamu nggak usah merasa seperti itu, mama nggak marah belajar dari kesalahan itu baik lohh nak daripada yang berbuat salah terus tapi tidak pernah bertanggung jawab itu sama saja orang yang putus asa dan tidak mau sukses” Mama terus memotivasi aku sampai aku bisa bangkit lagi, Dalam hati Allhamdulillah mama tidak memarahi aku mama malah menasihatiku dari nasihat itu aku selalu membawa pesan mama sebagai penyemangat ku.
“ Nak kamu nggak usah merasa seperti itu, mama nggak marah belajar dari kesalahan itu baik lohh nak daripada yang berbuat salah terus tapi tidak pernah bertanggung jawab itu sama saja orang yang putus asa dan tidak mau sukses” Mama terus memotivasi aku sampai aku bisa bangkit lagi, Dalam hati Allhamdulillah mama tidak memarahi aku mama malah menasihatiku dari nasihat itu aku selalu membawa pesan mama sebagai penyemangat ku.
Akupun mulai sadar dan bangkit seperti awal masuk pondok dan menjadi alishba
yang baru kesemangatankupun mulai membara dan aku belajar agar tidak mudah
putus asa dan belajar dari kesalahan seperti apa yang dikatakan mama.
Mama adalah sosok yang sangat mengerti kita karna di dalam jiwa ibu ada
rasa yang sama, guruku pernah berkata “bahwa raga seorang anak, ibu juga bisa
merasakan” seperti ilmu telepati yang pernah di gunakan orang pada zaman dahulu
untuk mengetahui perasaan dan bagaimana keadaan yang terjadi, Karna pada zaman
dahulu belum maju seperti zaman sekarang yang segalanya serba otomatis, praktis
dan mudah dijangkau.
Hukuman itupun kulakukan hari ini hari kamis aku izin tidak sekolah untuk
melakukan hukuman ini padahal ulangan guru killer hari ini. Aku membersihkan
pondok sampai sore, lelah sekali rasanya aku merasa sangat kapok sekali sedari
tadi mengeluh terus kepada teman-temanku yang juga mengikuti hukuman, Mereka
juga mengeluh karna memang sangat lelah membersihkan 3 komplek, satu komplek
saja sudah masyaallah apalagi tiga.
Hari
esoknya aku masuk sekolah semua bertanya kenapa aku kemarin tidak sekolah aku
hanya diam karna aku malu jika aku menjawab. Farhaiza mungkin tahu tapi dia
diam saja aku langsung menghampirinya “Far kamu tahu kan apa yang terjadi
kemarin ?” “Kenapa ?” “ Jelas kamu tahu jangan bilang kepada siapapun yah far”
“Iya” Dalam hatiku judes sekali sih anak ini jelas saja tidak ada yang berteman
dengan dia.
Angkatanku sering dikenal seperti
macan yang semua siswa di bawah kita pasti takut, dari kita kelas 10 semua
angkatan takut sampai kini kami sudah kelas 12 , sampai kita terheran apa yang
salah dengan kita, Memang kita selalu berani tapi itu juga sebagian keluhan
dari siswa di bawah kita mereka mengeluh tapi tidak berani mengusulkan
fikirannya, beda dengan kita kita selalu mengusulkan apa yang terjadi dan apa
yang membuat hati terasa sakit yang sedikit mendalam.
Angkatanku juga bisa dibilang sebagai angkatan yang unik, sering bertengkar
bahkan selalu tetapi kita masih tetap harmonis walau kita memiliki masalah pada
masing-masing orang tapi kita tetap profesional yang tidak menyangkutpautkan
masalah pribadi ke semua orang.
Setiba
di pondok aku langsung disambut dengan kedatangan Adiba dia baru datang dari
majalengka karna abinya dirawat disana. Sore ini aku berencana mendatangi
ustadz keamanan pondok untuk memberitahu bahwa aku selesai mengerjakan semua
tugasku, Ustadz berpesan kepadaku contohlah Farhaiza dia adalah anak paling
rajin diapun tidak pernah pulang tidak pernah melanggar peraturan. Aku langsung berfikir apakah aku mendekati
dia saja aku akan bertanya bagaimana usaha dia berjuang selama dipondok.
“ Assalamualaikum
far”
“ Waalaikumussalam ada apa lagi ?”
“ Nggak kok far aku cuma pengen temenan aja sama kamu”
“ Ehm, iyah silahkan”
“ Waalaikumussalam ada apa lagi ?”
“ Nggak kok far aku cuma pengen temenan aja sama kamu”
“ Ehm, iyah silahkan”
Kukira farhaiza itu judes cuek nggak perduli dan sulit untuk mengajak
bicara ternyata semuanya tidak seperti yang kukira Farhaiza adalah anak yang
baik,perhatian,ramah kepada setiap orang. Mungkin selama ini hanya perasaanku
saja yang menilai dia jelek sifatnya ternyata tidak sama sekali, Farhaiza
anaknya tertutup mungkin yang tidak mengenal dia akan menilai sama sepertiku
sebelum mengenalnya.
Perlahan aku mulai mengetahui
sifat farhaiza, Aku kagum melihat kesemangatan farhaiza dalam mencari ilmu,
Semangatnya sungguh luar biasa hasil
dari semangat itu sangat berharga dalam setiap tetes yang dikeluarkan dan
alhasil semua biaya sekolah ditanggung oleh sekolah berkat semua prestasi yang
didapatnya uang sakupun dia mendapatkan dari lomba-lomba yang banyak
diikutinya. Rajin menabung tidak pernah jajan itulah prinsipnya dalam keuangan
Farhaiza.
Berbeda sekali denganku prinsipku adalah Perut kenyang hatipun senang walau
uangku habis aku tinggal sms mama untuk mentransfer tidak seperti Farhaiza dia
rajin berpuasa tidak hanya senin kamis dia selalu bertirakat puasa untuk
menekuni karirnya kemasa depan.
Aku
mulai mengikuti cara hidup Farhaiza yang prinsip hidupnya menggugah aku untuk
mengikutinya, Farhaiza pernah berpesan kepadaku bahwa “ Manis Pahitnya Hidup
Kita Yang Menentukan Adalah Kita Sendiri” kalimat itu yang telah diucapkan oleh
Imam Syafi’i.
Aku terdiam dan membayangkan mengapa aku tidak seperti farhaiza
memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang berharga. Membuat
suatu perubahan itu memang sangatlah sulit sangat sangat sulit bahkan tapi
dengan tekad dan MAU kita bisa melakukan itu yang paling penting adalah mau
untuk melakukan perubahan. Dengan Bismillah aku mau melakukan perubahan,
Farhaiza mampu merubahku dari yang malas menjadi sangat rajin, Sampai semua
warga pondok terheran melihatku sangat rajin melakukan aktivitas.
Aku memulai hariku yang dulunya
putih abu-abu menjadi berwarna aku juga mulai memanfaatkan keberadaanku untuk
hal-hal yang menguntungkan, Dan aku harus bersyukur mama dan ayahku mampu untuk
membiayaiku sekolah pondok dan segalanya yang kuinginkan seperti uang saku
lebih, barang-barang yang sebetulnya tidak penting dan yang lainnya aku mulai
memanfaatkan untuk hal yang berguna dan mengurangi waktu bercanda. Absen shalat
berjamaah terisi penuh tanpa ada yang kosong satupun aku melihatnya sangat
senang sekali tidak seperti minggu lalu yang selalu kosong di shalat shubuhnya
tapi sekarang sudah tidak lagi.
Tiga bulan lagi aku UN, Aku
berniat untuk bertirakat puasa agar masuk Universitas yang kuinginkan dengan
mudah. Setiap hari Farhaiza membantuku mengerjakan soal-soal yang menurutku sulit dan selalu memotivasiku
agar tidak pantang menyerah.
Aku mulai bisa membagi waktuku untuk belajar walau tidurku larut karena
tekad dan usaha ingin melakukan yang terbaik aku menyempatkan shalat tahajud walau
dengan mata tertutup. Try out kujalani dengan sangat besar hati dan aku sangat
senang aku bisa mengerjakan itu dengan mudah.
Hingga makanan hari-hariku kini adalah soal-soal SBMPTN soal Try out dan
masih banyak lagi, Belum lagi di pondok aku punya kewajiban murojaah al quran
yang tidak mungkin aku tinggalkan dan yang diakhir tahun sebelum aku keluar
harus disetorkan kepada kyai.
Tak terasa tiga bulan sudah
berlalu minggu ini aku menjalani Ujian Nasional dimana siswa kelas XII
diseluruh sekolah serentak mengerjakan soal-soal yang akan meluluskan mereka
dari sekolah masing-masing.
Empat hari aku tidak belajar soal-soal karna aku sudah lelah melihat
tulisan dan angka-angka itu aku hanya berdoa dan melakukan tirakatku, berangkat
sekolah mengerjakan soal pulang tidur mengikuti kegiatan pondok sampai malam
dilanjutkan dengan tidur disepertiga malam bangun shalat tahajud dan disambung
tidur sampai shalat shubuh.
Hasilpun sudah keluar aku
merasakan gejolak mendalam di hati menunggu wali kelas membagikan amplopan, Tanganku sudah merinding, dengan
keringat dingin. Wali kelas akan mengumumkan nilai terbaik se-kota dan sekelas
“Alishba Putri Aisyah ranking 3 se-kota dan ranking 2 sekelas” Aku menangis dan
sangat tidak menyangka bahwa aku bisa melakukan itu semua. Setiba aku dipondok
langsung menelfon mama untuk datang kepondok aku ingin membuat kejutan untuk
mama karna ini pertama kalinya aku bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
Saat wisuda aku dipanggil keatas
panggung untuk diberi penghargaan yang pertama adalah Farhaiza kemudian
dilanjut dengan Namaku. Aku menerima bunga dan uang sebesar lima ratus ribu
penghargaan dari sekolah padahal aku tidak pernah mencetak prestasi apapun
disekolah tapi tiba-tiba ketika UN dan Ujian Sekolah, Tryout dan Latihan Soal yang
lain semua hasilnya sangat memuaskan. Aku berdiri dideretan murid berprestasi
mulai dari kelas X sampai XII, Aku melihat mama yang sedari tadi tidak berhenti
menangis melihatku aku terharu melihat mama yang tidak berhenti menangis.
Setelah turun dari panggung aku
sekeluarga berfoto semua terlihat sangat bangga padaku mama yang terus mencium
aku sampai aku merasa malu saking bangganya mama padaku, Dari arah belakang
Adiba datang membawa bucket bunga dengan kartu ucapan “ Congrats kakakku sayang
yang sudah membantu aku dipondok selama dua tahun ini, Selamat melanjutkan
belajarnya kakak Aku sayang kakak” Aku meneteskan air mata membaca itu. Semua
orang disini membuat aku menangis tak ada hentinya.
Setiba dipondok aku berpamitan
dengan teman-teman dan berkemas kembali kerumah, Dan berpamitan pada kyai dan
ketua pondok. “ Assalamualikum mbak” aku memberi salam pada mbak-mbak yang sedang
piket menjaga rumah kyai.
“ Kyai ada
didalam mbak alishba”
“ Bisa saya masuk mbak ?”
“ Iyah bisa kok mbak alishba, Mau pamit yah mbak ?”
“ Iyah mbak, Doanya yah mbak masuk Universitas pilihan saya”
“ Wah pasti mbak alishba, nanti nggak ada yang bangunin dong waktu shubuh”
“ Ada Adiba mbak tenang, oh iya mbak saya nitip Adiba yah temenin kalau dia kemana-mana”
“ Siap mbak alishba”
Aku mulai masuk rumah kyai
“ Assalamualaikum yai”
“ Waalaikumussalam nduk, Ada apa ?”
“ Ini yai mau memamitkan Alishba” Mamaku yang meminta izin ke yai untuk memboyongkan aku.
“ Bisa saya masuk mbak ?”
“ Iyah bisa kok mbak alishba, Mau pamit yah mbak ?”
“ Iyah mbak, Doanya yah mbak masuk Universitas pilihan saya”
“ Wah pasti mbak alishba, nanti nggak ada yang bangunin dong waktu shubuh”
“ Ada Adiba mbak tenang, oh iya mbak saya nitip Adiba yah temenin kalau dia kemana-mana”
“ Siap mbak alishba”
Aku mulai masuk rumah kyai
“ Assalamualaikum yai”
“ Waalaikumussalam nduk, Ada apa ?”
“ Ini yai mau memamitkan Alishba” Mamaku yang meminta izin ke yai untuk memboyongkan aku.
Yai bilang padaku nduk jangan
lupa sama tirakatmu yang sudah dilakukan dipondok jangan lupa hafalannya harus
dideres walau sedikit tapi lancar itu mukjizat nduk, Karna tidak semua orang
bisa menghafalkan al quran dengan mudah, Aku menyimpan baik kata kyai.
Aku masuk Universitas dengan
jalur undangan dan allhamdulillah aku diterima di Universitas Favorit jurusan
keperawatan S1 dengan mudah aku masuk, Aku mengambil beasiswa tahfidh lima juz
dan semua berjalan dengan sangat lancar.
Sekarang aku sudah dewasa
menjadi anak kuliah yang mandiri, Aku tidak menyangka kalau aku bisa berubah
sedrastis ini padahal aku dahulu sangat malas mudah putus asa dan selalu
mengeluh, Semua berkat bantuan dari Farhaiza yang mampu mengubah aku dari malas
menjadi sangat giat, Dan sekarang Farhaiza kuliah di jerman jurusan kedokteran
dengan full beasiswa dari jalur tahfidh.
Pertengahan semester seseorang
dari pekalongan datang kerumahku dengan membawa cincin emas berlian, Aku hanya
terdiam dan kemudian mama yang menjawab bahwa aku menerima cincin itu, mama
memasangkan dijari seseorang itu dan mamanya memasangkan dijariku. Begitu cepat
sebenarnya tapi mau gimana lagi mama sudah ingin aku menikah dan mungkin
sebentar lagi mama sudah tua sehingga tidak bisa menjagaku.
Seminggu setelah lamaran,
pernikahan inipun terjadi aku menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak
kukenal dan aku belum bertemu dengannya sama sekali ketika lamaranpun aku tidak
dipertemukan dengannya kami berada pada satu atap ditempat yang berbeda. Kata
Qobiltupun telah diucap seseorang itu langsung menjemputku dikamar perasaan yang
sangat takut dan gemetar terjadi padaku dengan keringat tak ada hentinya, Aku
terkagetkan melihat seorang lelaki yang berdiri menjemputku dan disampingnya
perempuan yang sangat kukenal dan sangat kusayang dia adalah Adiba. Lelaki itu
saudara kandung Adiba yang baru pulang dari Kairoh mesir dan sudah menghafalkan
30 juz putra dari salah seorang kyai di pekalongan, Ketika lamaran bukan mama
Adiba yang memasangkan cincin dijari manisku melainkan orang lain. Ini sebuah
hadiah dari Allah untukku tak sungkan aku menangis di hadapan suamiku dia
adalah Ahmad zalzali, Ahmad memgang tanganku aku merasa takut karna ini pertama
kalinya dalam seumur hidup tanganku dipegang oleh sosok lelaki yang tidak
kukenal.
Benar apa kata Farhaiza bahwa
manis pahitnya hidup kita yang bisa menentukan dan kita bisa mengubah taqdir
dengan tekad, Dan tak lupa juga yang dipesankan oleh kyai padaku dulu waktu aku
berpamitan jangan meinggalkan tirakat yang sudah kubuat waktu masih dipondok,
Al hasil semua berjalan dengan mudah ketika aku keluar dari pondok. Dan
sekarang aku membuka praktik dirumah suamiku tidak mempermasalahkan aku walau
aku membuka praktik dirumah, begitu baik dan sangat perhatian sekali suamiku,
Kini aku dan Adiba benar-benar menjadi saudara dan semakin manja Adiba padaku
padahal dia sudah menjadi mahasiswa bukan anak SMA lagi.
No comments:
Post a Comment